SIFAT FISIK AIR LAUT
KELOMPOK 4
Nama:
UMAM ARIFIN (0310067111)
M. RIAN ALDI (031oo67011)
PRODI TEKNOLOGI MANAJEMEN BUDIDAYA PERAIRAN
FAKULTAS PERIKANAN
UNIVERSITAS PEKALONGAN
2014/2015
BAB I PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang
Oseanografi terdiri dari dua kata: oceanos
yang berarti laut dan graphos yang berarti gambaran atau deskripsi (bahasa
Yunani). Secara sederhana kita dapat mengartikan oseanografi sebagai gambaran
atau deskripsi tentang laut. Dalam bahasa lain yang lebih lengkap, oseanografi
dapat diartikan sebagai studi dan penjelajahan (eksplorasi) ilmiah mengenai
laut dan segala fenomenanya. Laut sendiri adalah bagian dari hidrosfer. Seperti
kita ketahui bahwa bumi terdiri dari bagian padat yang disebut litosfer, bagian
cair yang disebut hidrosfer dan bagian gas yang disebut atmosfer. Sementara itu
bagian yang berkaitan dengan sistem ekologi seluruh makhluk hidup penghuni
planet Bumi dikelompokkan ke dalam biosfer.
Sebelum melangkah pada uraian yang lebih
jauh, mungkin ada di antara anda yang bertanya: “Apa bedanya oseanografi dan
oseanologi?” Kalau kita melihat pada beberapa ensiklopedia yang ada,
oseanografi dan oseanologi adalah dua hal yang sama (sinonim). Namun, dari
beberapa sumber lain dikatakan bahwa ada perbedaan mendasar yang membedakan
antara oseanografi dan oseanologi. Oseanologi terdiri dari dua kata (dalam
bahasa Yunani) yaitu oceanos (laut) dan logos (ilmu) yang secara sederhana
dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang laut. Dalam arti yang
lebih lengkap, oseanologi adalah studi ilmiah mengenai laut dengan cara
menerapkan ilmu-ilmu pengetahuan tradisional seperti fisika, kimia, matematika,
dll ke dalam segala aspek mengenai laut. Anda tinggal pilih, mau setuju dengan
pendapat pertama atau kedua.
Secara umum, oseanografi dapat dikelompokkan
ke dalam 4 (empat) bidang ilmu utama yaitu: geologi oseanografi (geologi laut)
yang mempelajari lantai samudera atau litosfer di bawah laut memfokus pada
struktur, tanda dan evolusi pasu samudra. Fisika oseanografi (ekologi fisik)
yang mempelajari masalah-masalah fisis dan cirri-ciri seperti arus, gelombang,
pasang surut dan temperatur air laut. Kimia oseanografi (oseanografi kimia)
yang mempelajari masalah-masalah kimiawi air laut dan bersangkut-paut dengan
susunan air laut siklus biogeokimia yang berpengaruh akan itu, yang terakhir
biologi oseanografi (ekologi marin) yang mempelajari masalah-masalah yang
berkaitan dengan flora dan fauna di laut termasuk siklus kehidupan dan produksi
pangan.
Oseanografi adalah jumlah beberapa cabang
tersebut. Penyelidikan oseanografis mendatangkan percontohan air laut dan
kehidupan marin untuk pengkajian mendalam, perabaan jauh proses oseanik dengan
pesawat udara dan satelit mengorbitkan bumi, dan eksplorasi lantai laut dengan
sarana penggerekan laut-dalam dan penampangan seismik pusat bumi da bawah dasar
pangkal samudra. Pengetahuan lebih besar samudra dunia memperbolehkan ilmuwan
meramalkan secara lebih tepat, seandainya, perubahan cuaca dan iklim jangka
waktu panjang dan juga antarkan pada eksploitasi lebih efisien sumber daya
bumi. Oseanografipun vital pada pehamaman efek pencemar pada perairan lautan
dan pemeliharaan kualitas perairan samudra terhadap tuntutan manusia dibuat
padanya yang kian menambah.
Studi menyeluruh (komprehensif) mengenai laut
dimulai pertama kali dengan dilakukannya ekspedisi Challenger (1872-1876) yang
dipimpin oleh naturalis bernama C.W. Thomson (berkebangsaan Skotlandia) dan
John Murray (berkebangsaan Kanada). Istilah Oseanografi sendiri digunakan oleh
mereka dalam laporan yang diedit oleh Murray. Murray selanjutnya menjadi
pemimpin dalam studi mengenai sedimen laut. Keberhasilan dari ekspedisi
Challenger dan pentingnya ilmu pengetahuan tentang laut dalam
perkapalan/perhubungan laut, perikanan, kabel laut dan studi mengenai iklim
akhirnya membawa banyak negara untuk melakukan ekspedisi-ekspedisi berikutnya.
Organisasi oseanografi internasional pertama adalah The International Council
for the Exploration of the Sea (1901).
Di Indonesia sendiri terdapat beberapa
lembaga penelitian dan perguruan-perguruan tinggi dalam bidang kelautan. Salah
satu lembaga penelitian kelautan yang tertua di Indonesia adalah Pusat
Penelitian Oseanografi, yang berada di bawah Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia (disingkat menjadi P20-LIPI) yang dulu namanya Lembaga Oseanologi
(LON-LIPI) . Cikal bakal dari lembaga penelitian ini dulu bernama Zoologish
Museum en Laboratorium te Buitenzorg yang didirikan pada tahun 1905.
I.II Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah
untuk mengetahui temperatur air laut, tekanan dan kedalaman air laut, salinitas
air laut dan densitas air laut. Selain itu juga untuk dijadikan
sebagai bahan bacaan dan sumber referensi bagi pembaca.
BAB II PEMBAHASAN
II.1 Temperatur Air Laut
Dalam oseanografi dikenal dua istilah untuk
menentukan temperatur air laut yaitu temperatur insitu (selanjutnya disebut
sebagai temperatur saja) dan temperatur potensial. Temperatur adalah sifat
termodinamis cairan karena aktivitas molekul dan atom di dalam cairan tersebut.
Semakin besar aktivitas (energi), semakin tinggi pula temperaturnya. Temperatur
menunjukkan kandungan energi panas. Energi panas dan temperatur dihubungkan
oleh energi panas spesifik. Energi panas spesifik sendiri secara sederhana
dapat diartikan sebagai jumlah energi panas yang dibutuhkan untuk menaikkan
temperatur dari satu satuan massa fluida sebesar 1o. Jika kandungan energi
panas nol (tidak ada aktivitas atom dan molekul dalam fluida) maka
temperaturnya secara absolut juga nol (dalam skala Kelvin). Jadi nol dalam
skala Kelvin adalah suatu kondisi dimana sama sekali tidak ada aktivitas atom
dan molekul dalam suatu fluida. Temperatur air laut di permukaan ditentukan
oleh adanya pemanasan (heating) di daerah tropis dan pendinginan (cooling) di
daerah lintang tinggi. Kisaran harga temperatur di laut adalah -2o s.d.
35oC.
Tekanan di dalam laut akan bertambah dengan
bertambahnya kedalaman. Sebuah parsel air yang bergerak dari satu level tekanan
ke level tekanan yang lain akan mengalami penekanan (kompresi) atau
pengembangan (ekspansi). Jika parsel air mengalamai penekanan secara adiabatis
(tanpa terjadi pertukaran energi panas), maka temperaturnya akan bertambah.
Sebaliknya, jika parsel air mengalami pengembangan (juga secara adiabatis),
maka temperaturnya akan berkurang. Perubahan temperatur yang terjadi akibat
penekanan dan pengembangan ini bukanlah nilai yang ingin kita cari, karena di
dalamnya tidak terjadi perubahan kandungan energi panas. Untuk itu, jika kita
ingin membandingkan temperatur air pada suatu level tekanan dengan level tekanan
lainnya, efek penekanan dan pengembangan adiabatik harus dihilangkan. Maka dari
itu didefinisikanlah temperatur potensial, yaitu temperatur dimana parsel air
telah dipindahkan secara adiabatis ke level tekanan yang lain. Di laut,
biasanya digunakan permukaan laut sebagai tekanan referensi untuk temperatur
potensial. Jadi kita membandingkan harga temperatur pada level tekanan yang
berbeda jika parsel air telah dibawa, tanpa percampuran dan difusi, ke
permukaan laut. Karena tekanan di atas permukaan laut adalah yang terendah
(jika dibandingkan dengan tekanan di kedalaman laut yang lebih dalam), maka
temperatur potensial (yang dihitung pada tekanan permukaan) akan selalu lebih
rendah daripada temperatur sebenarnya.
Gambar 1. Temperatur Profile
(Sumber : https://goo.gl/images/nwM4pJ)
Satuan untuk temperatur dan temperatur
potensial adalah derajat Celcius. Sementara itu, jika temperatur akan digunakan
untuk menghitung kandungan energi panas dan transpor energi panas, harus
digunakan satuan Kelvin. 0oC = 273,16K. Perubahan 1oC sama dengan perubahan 1K.
Seperti telah disebutkan di atas, temperatur
menunjukkan kandungan energi panas, dimana energi panas dan temperatur
dihubungkan melalui energi panas spesifik. Energi panas persatuan volume
dihitung dari harga temperatur menggunakan rumus
Q = densitas x energi panas specific x temperatur
(temperatur dalam satuan Kelvin). Jika
tekanan tidak sama dengan nol, perhitungan energi panas di lautan harus
menggunakan temperatur potensial. Satuan untuk energi panas (dalam mks) adalah
Joule. Sementara itu, perubahan energi panas dinyatakan dalam Watt
(Joule/detik). Aliran (fluks) energi panas dinyatakan dalam Watt/meter2 (energi
per detik per satuan luas).
Kisaran suhu pada daerah tropis relatif stabil karena
cahaya matahari lebih banyak mengenai daerah ekuator daripada daerah kutub. Hal
ini dikarenakan cahaya matahari yang merambat melalui atmosfer banyak
kehilangan panas sebelum cahaya tersebut mencapai kutub. Suhu di lautan
kemungkinan berkisar antara -1.87°C (titik beku air laut) di daerah kutub
sampai maksimum sekitar 42°C di daerah perairan dangkal (Hutabarat dan Evans,
1986).
Sebaran suhu secara menegak ( vertikal)
diperairan Indonesia terbagi atas tiga lapisan, yakni lapisan hangat di bagian
teratas atau lapisan epilimnion dimana pada lapisan ini gradien suhu berubah
secara perlahan, lapisan termoklin yaitu lapisan dimana gradien suhu berubah
secara cepat sesuai dengan pertambahan kedalaman, lapisan dingin di bawah
lapisan termoklin yang disebut juga lapisan hipolimnion dimana suhu air laut
konstan sebesar 4ºC. Pada lapisan termoklin memiliki ciri gradien suhu yaitu
perubahan suhu terhadap kedalaman sebesar 0.1ºC untuk setiap pertambahan
kedalaman satu meter (Nontji,1987).
Gambar 2. Profil suhu Permukaan Dunia
(Sumber : https://goo.gl/images/7fkmXj)
Suhu menurun secara teratur sesuai dengan kedalaman.
Semakin dalam suhu akan semakin rendah atau dingin. Hal ini diakibatkan karena
kurangnya intensitas matahari yang masuk kedalam perairan. Pada kedalaman
melebihi 1000 meter suhu air relatif konstan dan berkisar antara 2°C – 4°C
(Hutagalung, 1988)
Suhu mengalami perubahan secara
perlahan-lahan dari daerah pantai menuju laut lepas. Umumnya suhu di pantai
lebih tinggi dari daerah laut karena daratan lebih mudah menyerap panas
matahari sedangkan laut tidak mudah mengubah suhu bila suhu lingkungan tidak berubah.
Di daerah lepas pantai suhunya rendah dan stabil.
Lapisan permukaan hingga kedalaman 200 meter
cenderung hangat, hal ini dikarenakan sinar matahari yang banyak diserap oleh
permukaan. Sedangkan pada kedalaman 200-1000 meter suhu turun secara mendadak
yang membentuk sebuah kurva dengan lereng yang tajam. Pada kedalaman melebihi
1000 meter suhu air laut relatif konstan dan biasanya berkisar antara 2-4o C
(sahala hutabarat,1986).
Faktor yang memengaruhi suhu permukaan laut
adalah letak ketinggian dari permukaan laut (Altituted), intensitas cahaya
matahari yang diterima, musim, cuaca, kedalaman air, sirkulasi udara, dan
penutupan awan (Hutabarat dan Evans, 1986).
II.2 Tekanan dan Kedalaman Laut
Tekanan air laut bertambah terhadap
kedalaman. Kedalaman air laut biasanya diukur dengan menggunakan echo sounder
atau CTD (Conductivity, Temperature, Depth). Kedalaman yang diukur dengan
menggunakan CTD didasarkan pada harga tekanan.
Tekanan didefinisikan sebagai gaya per satuan
luas. Semakin ke dalam, tekanan air laut akan semakin besar. Hal ini disebabkan
oleh semakin besarnya gaya yang bekerja pada lapisan yang lebih dalam. Satuan
dari tekanan dalam cgs adalah dynes/cm2, sedangkan dalam mks adalah Newton/m2.
Satu Pascal sama dengan satu Newton/m2. Dalam oseanografi, satuan tekanan yang
digunakan adalah desibar (disingkat dbar), dimana 1 dbar = 10-1 bar = 105
dynes/cm2 = 104 Pascal.
Gaya akibat tekanan bekerja dari tekanan yang
berbeda pada satu titik ke titik lainnya. Gaya ini bekerja dari tekanan yang
lebih tinggi ke tekanan yang lebih rendah. Di laut, gaya gravitasi yang bekerja
(ke arah bawah) akan diimbangi oleh gaya akibat adanya perbedaan tekanan
tersebut (ke arah atas), sehingga air yang bergerak ke bawah tidak akan
mengalami percepatan.
Tekanan pada satu kedalaman bergantung pada massa air
yang berada di atasnya. Persamaan yang digunakan untuk mengukur harga kedalaman
dari harga tekanan adalah persamaan hidrostatis, yaitu dp=ρ x g x
dh
Keterangan
dp=perubahan tekanan,
ρ=densitas air laut,
g=percepatan gravitasi, dan
dh=perubahan kedalaman.
Jadi, jika tekanan berubah sebesar 100 dbar, dengan harga
percepatan gravitasi g=9.8 m/det2 dan densitas air laut ρ=1025 kg/m3, maka
perubahan kedalamannya adalah 99,55 meter. Variasi tekanan di laut berada pada
kisaran nol (di permukaan) hingga 10.000 dbar (di kedalaman paling
dalam).
II.3 SALINITAS AIR LAUT
II.3.1. Teori Asal-Usul Garam-Garam di laut
Mula-mula diperkirakan bahwa zat-zat kimia
yang menyebabkan air laut asin berasal dari darat yang dibawa oleh sungai-sungai
yang mengalir ke laut, entah itu dari pengikisan batu-batuan darat, dari tanah
longsor, dari air hujan atau dari gejala alam lainnya, yang terbawa oleh air
sungai ke laut. Jika hal ini benar tentunya susunan kimiawi air sungai tidak
akan berbeda dengan susunan kimiawi air laut. Namun tabel 2 menunjukkan bahwa
ada perbedaan besar dalam susunan kimiawi kedua macam air tersebut. Jadi dugaan
itu tidak benar. Lalu dari mana sebenarnya asal garam-garam tersebut.
Menurut teori, zat-zat garam tersebut berasal
dari dalam dasar laut melalui proses outgassing, yakni rembesan dari kulit bumi
di dasar laut yang berbentuk gas ke permukaan dasar laut. Bersama gas-gas ini,
terlarut pula hasil kikisan kerak bumi dan bersama-sama garam-garam ini
merembes pula air, semua dalam perbandingan yang tetap sehingga terbentuk garam
di laut. Kadar garam ini tetap tidak berubah sepanjang masa. Artinya kita tidak
menjumpai bahwa air laut makin lama makin asin.
Zat-zat yang terlarut yang membentuk garam,
yang kadarnya diukur dengan istilah salinitas dapat dibagi menjadi empat
kelompok, yakni:
1. Konstituen utama : Cl, Na, SO4, dan Mg.
2. Gas terlarut : CO2, N2, dan O2.
3. Unsur Hara : Si, N, dan P.
4. Unsur Runut : I, Fe, Mn, Pb, dan Hg.
Konstituen utama merupakan 99,7% dari seluruh
zat terlarut dalam air laut, sedangkan sisanya 0,3% terdiri dari ketiga
kelompok zat lainnya. Akan tetapi meskipun kelompok zat terakhir ini sangat
kecil persentasenya, mereka banyak menentukan kehidupan di laut. Sebaliknya
kepekatan zat-zat ini banyak ditentukan oleh aktivitas kehidupan di laut.
Selain zat-zat terlarut ini, air juga
mengandung butiran-butiran halus dalam suspense. Sebagian dari zat ini akhirnya
terlarut, sebagian lagi mengendap ke dasar laut dan sisanya diurai oleh bakteri
menjadi zat-zat hara yang dimanfaatkan tumbuhan untuk fotosintesis.
Air laut mengandung 3,5% garam-garaman,
gas-gas terlarut, bahan-bahan organik dan partikel-partikel tak terlarut.
Keberadaan garam-garaman mempengaruhi sifat fisis air laut (seperti: densitas,
kompresibilitas, titik beku, dan temperatur dimana densitas menjadi maksimum)
beberapa tingkat, tetapi tidak menentukannya. Beberapa sifat (viskositas, daya
serap cahaya) tidak terpengaruh secara signifikan oleh salinitas. Dua sifat
yang sangat ditentukan oleh jumlah garam di laut (salinitas) adalah daya hantar
listrik (konduktivitas) dan tekanan osmosis.
Garam-garaman utama yang terdapat dalam air
laut adalah klorida (55%), natrium (31%), sulfat (8%), magnesium (4%), kalsium
(1%), potasium (1%) dan sisanya (kurang dari 1%) teridiri dari bikarbonat,
bromida, asam borak, strontium dan florida. Tiga sumber utama garam-garaman di
laut adalah pelapukan batuan di darat, gas-gas vulkanik dan sirkulasi
lubang-lubang hidrotermal (hydrothermal vents) di laut dalam.
Secara ideal, salinitas merupakan jumlah dari
seluruh garam-garaman dalam gram pada setiap kilogram air laut. Secara praktis,
adalah susah untuk mengukur salinitas di laut, oleh karena itu penentuan harga
salinitas dilakukan dengan meninjau komponen yang terpenting saja yaitu klorida
(Cl). Kandungan klorida ditetapkan pada tahun 1902 sebagai jumlah dalam gram
ion klorida pada satu kilogram air laut jika semua halogen digantikan oleh
klorida. Penetapan ini mencerminkan proses kimiawi titrasi untuk menentukan
kandungan klorida.
Salinitas ditetapkan pada tahun 1902 sebagai
jumlah total dalam gram bahan-bahan terlarut dalam satu kilogram air laut jika
semua karbonat dirubah menjadi oksida, semua bromida dan yodium dirubah menjadi
klorida dan semua bahan-bahan organik dioksidasi. Selanjutnya hubungan antara
salinitas dan klorida ditentukan melalui suatu rangkaian pengukuran dasar laboratorium
berdasarkan pada sampel air laut di seluruh dunia dan dinyatakan sebagai:
S (o/oo) = 0.03 +1.805 Cl (o/oo) (1902)
Lambang o/oo (dibaca per mil) adalah bagian per seribu.
Kandungan garam 3,5% sebanding dengan 35o/oo atau 35 gram garam di dalam satu
kilogram air laut. Persamaan tahun 1902 di atas akan memberikan harga salinitas
sebesar 0,03o/oo jika klorinitas sama dengan nol dan hal ini sangat menarik
perhatian dan menunjukkan adanya masalah dalam sampel air yang digunakan untuk
pengukuran laboratorium. Oleh karena itu, pada tahun 1969 UNESCO memutuskan
untuk mengulang kembali penentuan dasar hubungan antara klorinitas dan
salinitas dan memperkenalkan definisi baru yang dikenal sebagai salinitas
absolut dengan rumus:
S (o/oo) = 1.80655 Cl (o/oo) (1969)
Namun demikian, dari hasil pengulangan definisi ini
ternyata didapatkan hasil yang sama dengan definisi sebelumnya.
Definisi salinitas ditinjau kembali ketika
tekhnik untuk menentukan salinitas dari pengukuran konduktivitas, temperatur
dan tekanan dikembangkan. Sejak tahun 1978, didefinisikan suatu satuan baru
yaitu Practical Salinity Scale (Skala Salinitas Praktis) dengan simbol S,
sebagai rasio dari konduktivitas.
Salinitas praktis dari suatu sampel air laut
ditetapkan sebagai rasio dari konduktivitas listrik (K) sampel air laut pada
temperatur 15oC dan tekanan satu standar atmosfer terhadap larutan kalium
klorida (KCl), dimana bagian massa KCl adalah 0,0324356 pada temperatur dan
tekanan yang sama. Rumus dari definisi ini adalah:
S = 0.0080 - 0.1692 K1/2 + 25.3853 K + 14.0941 K3/2 -
7.0261 K2 + 2.7081 K5/2
Catatan:
Gambar 3. Typical temperature and salinity profiles in
the open ocean.
(Sumber : https://goo.gl/images/E1BL6j)
II.3.2. Sebaran Salinitas di Laut
Sebaran salinitas di laut dipengaruhi oleh
berbagai faktor seperti pola sirkulasi air, penguapan, curah hujan, aliran
sungai. Perairan estuaria atau daerah sekitar kuala dapat mempunyai struktur
salinitas yang kompleks, karena selain merupakan pertemuan antara air tawar
yang relatif lebih ringan dan air laut yang lebih berat, juga pengadukan air
sangat menentukan. Beberapa kemungkinan ditunjukkan secara diagramatis pada
gambar 1. Pertama adalah perairan dengan stratifikasi salinitas yang sangat
kuat, terjadi di mana air tawar merupakan lapisan yang tipis di permukaan
sedangkan di bawahnya terdapat air laut. Ini bisa ditemukan di depan muara
sungai yang alirannya kuat sedangkan pengaruh pasang-surut kecil. Nelayan atau
pelaut di pantai Sumatra yang dalam keadaan darurat kehabisan air tawar
kadang-kadang masih dapat menyiduk air tawar di lapisan tipis teratas dengan
menggunakan piring, bila berada di depan muara sungai besar.
Kedua, adalah perairan dengan stratifikasi
sedang. Ini terjadi karena adanya gerak pasang-surut yang menyebabkan
terjadinya pengadukan pada kolom air hingga terjadi pertukaran air secara
vertikal. Di permukaan, air cenderung mengalir keluar sedangkan air laut
merayap masuk dari bawah. Antara keduanya terjadi percampuran. Akibatnya garis
isohalin (=garis yang menghubungkan salinitas yang sama) mempunyai arah yang
condong ke luar. Keadaan semacam ini juaga bisa dijumpai di beberapa perairan
estuaria di Sumatra.
Di perairan lepas pantai yang dalam, angin
dapat pula melakukan pengadukan di lapisan atas hingga membentuk lapisan
homogen kira-kira setebal 50-70 m atau lebih bergantung intensitas pengadukan.
Di perairan dangkal, lapisan homogen ini berlanjut sampai ke dasar. Di lapisan
dengan salinitas homogen, suhu juga biasanya homogen. Baru di bawahnya terdapat
lapisan pegat (discontinuity layer) dengan gradasi densitas yang tajam yang
menghambat percampuran antara lapisan di atas dan di bawahnya.
Di bawah lapisan homogen, sebaran salinitas
tidak banyak lagi ditentukan oleh angin tetapi oleh pola sirkulasi massa air di
lapisan massa air di lapisan dalam. Gerakan massa air ini bisa ditelusuri
antara lain dengan mengakji sifat-sifat sebaran salinitas maksimum dan
salinitas minimum dengan metode inti (core layer method).
Salinitas di daerah subpolar (yaitu daerah di
atas daerah subtropis hingga mendekati kutub) rendah di permukaan dan bertambah
secara tetap (monotonik) terhadap kedalaman. Di daerah subtropis (atau semi
tropis, yaitu daerah antara 23,5o – 40oLU atau 23,5o – 40oLS), salinitas di
permukaan lebih besar daripada di kedalaman akibat besarnya evaporasi
(penguapan). Di kedalaman sekitar 500 sampai 1000 meter harga salinitasnya
rendah dan kembali bertambah secara monotonik terhadap kedalaman. Sementara
itu, di daerah tropis salinitas di permukaan lebih rendah daripada di kedalaman
akibatnya tingginya presipitasi (curah hujan).
II.3.3. Dinamika Salinitas di Daerah Estuaria
Estuaria adalah perairan muara sungai semi
tertutup yang berhubungan bebas dengan laut, sehingga air laut dengan salinitas
tinggi dapat bercampur dengan air tawar. Estuaria dapat terjadi pada
lembah-lembah sungai yang tergenang air laut, baik karena permukaan laut yang
naik (misalnya pada zaman es mencair) atau pun karena turunnya sebagian daratan
oleh sebab-sebab tektonis. Estuaria juga dapat terbentuk pada muara-muara
sungai yang sebagian terlindungi oleh beting pasir atau lumpur.
Kombinasi pengaruh air laut dan air tawar
akan menghasilkan suatu komunitas yang khas, dengan lingkungan yang bervariasi,
antara lain:
1. Tempat bertemunya arus air tawar dengan arus
pasang-surut, yang berlawanan menyebabkan suatu pengaruh yang kuat pada
sedimentasi, pencampuran air, dan ciri-ciri fisika lainnya, serta membawa
pengaruh besar pada biotanya.
2. Pencampuran kedua macam air tersebut menghasilkan
suatu sifat fisika lingkungan khusus yang tidak sama dengan sifat air sungai
maupun sifat air laut.
3. Perubahan yang terjadi akibat adanya pasang-surut
mengharuskan komunitas mengadakan penyesuaian secara fisiologis dengan
lingkungan sekelilingnya.
4. Tingkat kadar garam di daerah estuaria tergantung pada
pasang-surut air laut, banyaknya aliran air tawar dan arus-arus lainnya, serta
topografi daerah estuaria tersebut.
II.3.4. Model Salinitas
”Model Salinitas” adalah suatu penggambaran
atas kadar garam yang terdapat pada air, baik kandungan atau perbedaannya
sehingga untuk tiap daerah dimungkinkan terdapat perbedaan ”model
salinitas”nya.
Perubahan salinitas dipengaruhi oleh pasang
surut dan musim. Ke arah darat, salinitas muara cenderung lebih rendah. Tetapi
selama musim kemarau pada saat aliran air sungai berkurang, air laut dapat
masuk lebih jauh ke arah darat sehingga salinitas muara meningkat. Sebaliknya
pada musim hujan, air tawar mengalir dari sungai ke laut dalam jumlah yang
lebih besar sehingga salinitas air di muara menurun.
Perbedaan salinitas dapat mengakibatkan
terjadinya lidah air tawar dan pergerakan massa di muara. Perbedaan salinitas
air laut dengan air sungai yang bertemu di muara menyebabkan keduanya bercampur
membentuk air payau. Karena kadar garam air laut lebih besar, maka air laut
cenderung bergerak di dasar perairan sedangkan air tawar di bagian permukaan.
Keadaan ini mengakibatkan terjadinya sirkulasi air di muara.
Aliran air tawar yang terjadi terus-menerus
dari hulu sungai membawa mineral, bahan organik, dan sedimen ke perairan muara.
Di samping itu, unsur hara terangkut dari laut ke daerah muara oleh adanya
gerakan air akibat arus dan pasang surut. Unsur-unsur hara yang terbawa ke
muara merupakan bahan dasar yang diperlukan untuk fotosintesis yang menunjang
produktifitas perairan. Itulah sebabnya produktifitas muara melebihi
produktifitas ekosistem laut lepas dan perairan tawar. Lingkungan muara yang
paling produktif di jumpai di daerah yang ditumbuhi komunitas bakau.
BAB III PENUTUP
·
Kesimpulan :
Faktor yang memengaruhi suhu permukaan laut adalah letak
ketinggian dari permukaan laut (Altituted), intensitas cahaya matahari yang
diterima, musim, cuaca, kedalaman air, sirkulasi udara, dan penutupan awan
(Hutabarat dan Evans, 1986).
Perubahan salinitas dipengaruhi oleh pasang surut dan
musim. Ke arah darat, salinitas muara cenderung lebih rendah. Tetapi selama
musim kemarau pada saat aliran air sungai berkurang, air laut dapat masuk lebih
jauh ke arah darat sehingga salinitas muara meningkat. Sebaliknya pada musim
hujan, air tawar mengalir dari sungai ke laut dalam jumlah yang lebih besar
sehingga salinitas air di muara menurun.
DAFTAR PUSTAKA
sudomo-gis.com/Tulisan/Hidrografi_SifatFisikAirLaut.pdf




0 komentar:
Posting Komentar